
Di antara begitu banyak pelaku usaha properti, mengapa kami mengusung nama “StandUp” dan memilih AI sebagai sarananya? Izinkan saya menjelaskannya dengan kata-kata saya sendiri — meski mungkin agak panjang.
Tekad di balik nama “StandUp”
Nama “Stand up” memuat sebuah janji kepada diri kami sendiri: menaikkan (Up) standar (Standard) industri ini. Kami ingin mengangkat ‘hal yang dianggap biasa’ di dunia properti ke tingkat yang lebih tinggi — bukan demi keuntungan satu perusahaan, melainkan dengan menaikkan standar seluruh industri, sehingga pada akhirnya meningkatkan nilai yang diterima klien. Tekad itulah titik awal nama ini.
“Bangkit berdiri (Stand up)” juga menyimpan makna kedua. Jika tidak ada yang bangkit menghadapi kebiasaan yang tak berubah, industri tak akan berubah. Kami ingin menjadi perusahaan yang mengemban peran itu sendiri.
Naikkan (Up) standarnya (Standard). Dan bangkit berdiri (Stand up) untuk mengubahnya.
Esensi yang tak berubah, dan inefisiensi yang harus diubah
Saya percaya esensi pekerjaan properti tidak akan berubah: mendampingi seseorang pada titik-titik penting dalam hidupnya, dan membangun kepercayaan dari waktu ke waktu. Sewa pertama, rumah pertama, penjualan atau pembelian pada masa peralihan hidup — kami dipercaya untuk keputusan yang mungkin hanya dihadapi beberapa kali seumur hidup. Sehebat apa pun teknologi berkembang, esensi ‘menghadapi manusia’ ini tak akan goyah.
Di sisi lain, lapangan masih menyimpan banyak kebiasaan lama yang tak berubah serta inefisiensi yang bergantung pada pengalaman dan intuisi individu. Respons awal atas pertanyaan, penyusunan dokumen, pengelolaan informasi, urusan administrasi bulanan — waktu yang seharusnya dipakai untuk menghadapi klien justru tersita oleh tugas-tugas itu. Justru karena itu, saya yakin ada ruang tumbuh yang sangat besar di sini.
Dua poros — menopang dengan AI, mendampingi melalui properti
StandUp menjalankan usahanya di atas dua poros.
Pertama, dukungan efisiensi operasi properti berbasis AI. Karena kami sendiri berdiri di lapangan, kami memahami tantangan yang sesungguhnya — dan kami merancang solusi dengan kekuatan rekayasa AI untuk meringankan pekerjaan rekan-rekan seindustri. Inilah upaya kami menaikkan standar industri itu sendiri.
Kedua, usaha properti yang kami jalankan sendiri — dari pencarian sewa hingga jual beli, penjualan, dan pengelolaan. Dengan AI, kami mengusulkan properti kepada tiap klien setiap hari, melayani dalam bahasa Inggris dan Mandarin, serta menghadapi klien di depan kami dengan tulus. Karena kami berdiri di kedua sisi — yang mendukung dan yang melayani — saya yakin kami dapat menghadirkan perubahan yang membumi, bukan sekadar teori.
Titik awal saya — teknik sipil, lingkungan, dan Shanghai
Karier saya tidak berawal dari properti. Setelah lulus dari SMA Nichinan di Miyazaki, saya mempelajari teknik sipil — pekerjaan yang menopang masyarakat dari dasarnya — di Fakultas Teknik Universitas Kyushu. Ketertarikan pada pekerjaan yang menopang kehidupan orang dari fondasinya adalah awal dari segalanya.
Ingin menelusuri lebih jauh, saya mengambil jurusan Ilmu Sistem Lingkungan Atmosfer dan Laut di Pascasarjana Universitas Kyushu, meneliti lingkungan dalam skala global. Pada masa itu saya terpilih sebagai mahasiswa pertukaran “Campus Asia Program” yang membina pemimpin generasi berikutnya di Jepang, Tiongkok, dan Korea, lalu menempuh studi gelar di Pascasarjana Shanghai Jiao Tong University. Hari-hari belajar dalam budaya yang berbeda itu menjadi fondasi cara saya melayani klien lintas bahasa hari ini.
Setelah menyelesaikan kredit yang disyaratkan, saya mengarahkan kemudi dari dunia akademik ke dunia bisnis. Saya pindah ke Tokyo dan turut mendirikan perusahaan perantara properti di Shinjuku, mengalami semuanya dari merintis hingga menjalankan usaha. Begitu banyak momen ‘pasti ini bisa lebih baik’ yang saya rasakan di lapangan adalah titik awal langsung berdirinya StandUp.
StandUp ke depan
Yang kami tuju adalah tetap menjadi ‘alasan untuk dipilih’ — baik bagi klien maupun bagi industri. Kami menghadapi setiap orang di depan kami dengan tulus, dan membangun kepercayaan kecil itu. Justru pada kelanjutan jalan itulah, saya yakin, standar industri akan benar-benar terangkat.
Teknologi bukanlah tujuan, melainkan sarana untuk merebut kembali waktu kami menghadapi klien. Yang bisa diserahkan kepada AI kami serahkan kepada AI, dan kami curahkan waktu untuk pekerjaan tulus yang hanya bisa dilakukan manusia. Kami akan terus menjaga ketelitian yang begitu cermat hingga orang berkata ‘sama sekali tidak seperti perusahaan properti’.
Saya menantikan hari ketika dapat berbicara langsung dengan Anda yang telah membaca halaman ini. Baik konsultasi soal mencari hunian maupun soal efisiensi berbasis AI, apa pun kami sambut. Jangan ragu untuk menghubungi kami.